Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Januari 14, 2011

Photostream : Indonesian Defense Minister Purnomo Yusgiantoro meets Japanese Defense Minister Toshimi Kitazawa



Indonesian Defense Minister Purnomo Yusgiantoro (R), accompanied by his Japanese counterpart Toshimi Kitazawa (L), reviews the honor guard prior to their talks at the Defense Ministry in Tokyo on January 14, 2011. AFP PHOTO / Yoshikazu TSUNO (Photo credit should read YOSHIKAZU TSUNO/AFP/Getty Images)

Indonesian Defense Minister Purnomo Yusgiantoro (R) reviews the honor guard at the Defense Ministry in Tokyo on January 14, 2011. Purunomo held talks with his Japanese counterpart Toshimi Kitazawa. (Photo by YOSHIKAZU TSUNO/AFP/Getty Images)

Indonesian Defense Minister Purnomo Yusgiantoro (R) shakes hands with his Japanese counterpart Toshimi Kitazawa (L) prior to their talks at the Defense Ministry in Tokyo on January 14, 2011. (Photo by YOSHIKAZU TSUNO/AFP/Getty Images)

Januari 13, 2011

Tirulah Presiden Rusia, SBY Perhatikan Dong Perumahan TNI, POLRI & Kejaksaan


Russia's President Dmitry Medvedev
Jakarta 13/1/2011 (KATAKAMI) —  Bagi pengguna jejaring sosial TWITTER, kecepatan memperoleh informasi kelas dunia akan sangat cepat dan mudah sekali diperoleh.
Itulah yang terjadi pada hari Rabu ( 12/1/2011) kemarin, saat Presiden Rusia Dmitry Medvedev memuat informasi gambar terbaru di salah satu akun TWITTER dirinya bahwa ia baru saja mengunjungi perumahan bagi militer Rusia yang sedang dibangun.
KREMLINRUSSIA_E :   Dmitry Medvedev has inspected the construction of housing for military personnel in Podolsk outside Moscow http://twitpic.com/3pd2ux


Presiden Rusia Dmitry Medvedev didampingi Menteri Pertahanan Anatoly Serdyukov sedang melakukan peninjauan terharap pembangunan perumahan bagi militer Rusia di wilayah Podolsk ( Moscow), 12 Januari 2011. Foto inilah yang dirilis oleh Kantor Kepresidenan Rusia lewat jejaring sosial TWITTER
Dan itu bukan kunjungan Medvedev yang pertama untuk urusan militernya.
Yang ingin dibahas disini, betapa besarnya perbedaan “TAKDIR” antara prajurit MILITER di Rusia dan Indonesia.
Yang lebih menyedihkan lagi, di tanah air Indonesia ini tak cuma TNI yang sengsara dalam masalah perumahan. Kesengsaraan dan keterbatasan ( yang benar-benar sangat terbatas) di bidang perumahan ini juga dialami oleh POLRI & KEJAKSAAN.
Ya betul bahwa negara kita masih memiliki keterbatasan kemampuan untuk memenuhi kesejahteraan para prajurit TNI, POLRI dan Kejaksaan.
Itulah sebabnya mulai tahun 2011 ini, ada kebijakan terbaru dari Pemerintah dengan dikeluarkannya sebuah jalan keluar atau solusi untuk masalah kesejahteraan yaitu RENUMERASI.
Pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan KEBIJAKAN KENAIKAN PENDAPATAN RENUMERASI.
Lewat RENUMERASI ini, akan diperoleh peningkatan pendapatan sesuai dengan porsi dan prestasi kerja mereka masing-masing.
Tapi, cukupkah hanya sebatas mengeluarkan kebijakan RENUMERASI ?
Titik fokus pada pembahasan dalam tulisan ini adalah masalah PERUMAHAN.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa di Indonesia ini, prajurit TNI sangat amat malang nasibnya untuk urusan perumahan.
Tak cuma prajurit TNI, tetapi anggota Kepolisian (POLRI) dan Kejaksaan juga bernasib sama.
Antara prajurit TNI,POLRI dan KEJAKSAAN untuk urusan perumahan bagi anggota-anggota mereka, sangat memprihatinkan sekali nasibnya.

Presiden Rusia Dmitry Medvedev didampingi Menteri Pertahanan Anatoly Serdyukov saat melakukan inspeksi pembangunan perumahan bagi prajurit militer Rusia di Podolsk ( 12/1/2011)
Sehingga ketika Presiden Rusia Dmitry Medvedev menunjukkan foto tentang kunjungannya untuk melakukan inspeksi pembangunan perumahan prajurit militer di negaranya, perasaan kita sebagai anak bangsa Indonesia menjadi sangat sedih sekali.
Betapa kasihannya prajurit di negara kita ini.
Salah satu bentuk permasalahan seputar perumahan prajurit TNI di Indonesia ini juga sangat unik yaitu banyak perumahan yang masih terus dihuni oleh penghuni-penghuni lama.
Bahkan bisa sampai belasan atau puluhan tahun masih mendiami perumahan dinas yang disediakan institusi.
Dan mari, kita telusuri gambaran singkat tentang situasi dan kondisi yang saat ini terjadi di jajaran TNI, POLRI dan KEJAKSAAN.
Khusus untuk TNI, ilustrasi yang dikemukakan disini tidak bisa menjadi acuan tentang situasi dan kondisi dari masalah perumahan dalam institusi TNI secara keseluruhan.
Sebab contoh yang akan kami sampaikan disini hanya fokus pada KOPASSUS.

DOKUMENTASI FOTO : Komandan Jenderal Kopassus Mayjen TNI Lodewijk F. Paulus (kiri), bertindak sebagai Inspektur Upacara pada upacara serah terima jabatan Wadanjen Kopassus, dari Brigjen TNI Nugroho Widyoutomo (tengah), kepada Brigjen TNI Agus Sutomo (kanan), di Gedung Balai Komando Makopassus, Kamis (21/10/2010)
Lewat percakapan dengan KATAKAMI.COM, Kamis (13/1/2011) di Jakarta, Brigjen TNI Agus Sutomo selaku Wakil Komandan Jenderal Kopassus mengemukakan bahwa hampir seluruhnya prajurit Kopassus di Indonesia dapat tertampung di perumahan dinas yang disediakan Markas Kopassus.
“Syukur Alhamdulilah, anggoata Kopassus itu dapat ditampung semua di rumah-rumah dinas. Memang ada satu atau dua orang yang meminta izin dari kami bahwa mereka ingin tinggal diluar komplek perumahan Kopassus. Biasanya karena mereka ingin tinggal bersama mertua. Kami izinkan. Tetapi secara keseluruhan, semua anggota Kopassus itu tinggal di perumahan dinas” kata Agus Sutomo.
Menurut mantan Komandan Group A Paspampres ini, Kopassus menyadari keterbatasan negara memenuhi kebutuhan perumahan bagi prajurit Kopassus sehingga para pimpinan di Kopasssus yang berinisiatif untuk memberikan perhatian dan bantuan besar untuk masalah perumahan ini.
“Untungnya di Kopassus ini, kami selalu mendapatkan warisan dari para pimpinan sebelumnya yang rata- rata meninggalkan warisan perumahan bagi prajurit. Misalnya Pak Edhie ( Mayjen TNI Pramono Edhie Wibowo, redaksi). Semasa beliau menjadi Danjen Kopassus, beliau membangun rumah susun sederhana untuk prajurit Kopassus di dalam komplek Cijantung ini. Begitu juga mantan-mantan Danjen Kopassus yang lain. Semua meninggalkan warisan perumahan untuk prajurit Kopassus” lanjut Agus Sutomo.

Danjen Kopassus. Mayjen TNI Lodewijk F. Paulus
Agus Sutomo menjelaskan bahwa para mantan Danjen Kopassus ( termasuk Danjen Kopassus saat ini ) sering melakukan kunjungan ke lapangan untuk melihat secara langsung kondisi perumahan prajurit.
“Itu sebabnya para pimpinan mengetahui situasi dan kondisi yang sebenarnya. Sedikit demi sedikit kalau ada rezeki, perumahan-perumahan yang sudah rusak akan diperbaiki. Malah saat ini Danjen Kopassus memberikan bantuan Rp. 5 juta untuk masing-masing perumahan prajurit di Group 1 Serang. Uang bantuan itu dapat mereka gunakan untuk memperbaiki perumahan yang mereka huni saat ini. Sedapat mungkin, Kopassus tidak akan pernah membebani prajurit untuk masalah perumahan atau anggaran apapun guna memperbaiki perumahan tempat mereka tinggal” ungkap Agus Sutomo.
Menurut Agus Sutomo, pimpinannya saat ini yaitu Danjen Kopassus Mayjen TNI Lodewijk F. Paulus telah mengeluarkan 5 perintah harian untuk seluruh prajurit Kopassus yaitu :
1. Tugas-tugas operasi harus berhasil dilaksanakan.
2  Tugas-tugas pertandingan atau perlombaan, baik olahraga umum atau militer, harus dapat dijuarai.
3. Tugas-tugas latihan atau pendidikan, harus mencapai tujuan dan sasarannya.
4. Setiap pelaksanaan tugas, baik dalam pelaksaaan operasi, latihan dan pendidikan, harus 0 (nol) kecelakaan atau zero accident.
5. Tidak boleh melakukan pelanggaran apapun dalam seluruh pelaksanaan tugas-tugas secara keseluruhan.
Kalau mencermati uraian Wadanjen Kopassus ini, tentu kita harus memberikan apresiasi kepada para pimpinan di Kopassus. Besarnya tanggung jawab dan kepedulian mereka terhadap nasib dan kesejahteraan prajuritnya, patut diacungi jempol.
Tetapi pertanyaannya, bagaimana dengan nasib TNI yang lain ( di luar Kopassus ) ?
Apakah para pimpinan memiliki tingkat kepedulian yang sama besarnya ?
Dan kalaupun mereka memilik tingkat kepedulian yang sama besar, apakah Pemerintah Indonesia tidak malu karena sampai detik ini tetap tidak bisa menanggulangi masalah perumahan prajurit TNI ( termasuk masalah perumahan POLRI dan KEJAKSAAN ) ?
Apalagi Presiden SBY sedang menjalankan masa kedua kekuasaannya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kiri) dan Kapolri Jenderal Polisi Timur Pradopo
Apakah nanti seorang Susilo Bambang Yudhoyono ini tidak merasa malu bila dicatat dalam lembaran sejarah bahwa dalam 2 periode kekuasaannya, ia tidak memberikan kontribusi apapun untuk menolong para abdi negara ?
Kalau tadi dari pihak Kopassus, bagaimana dengan pihak POLRI ?
Lewat percakapan dengan KATAKAMI.COM, Kamis (13/1/2011) di Jakarta, Irjen. Polisi Anton Bachrul Alam selaku Kepala Divisi Humas POLRI menegaskan bahwa tidak semua anggota kepolisian yang beruntung mendapat jatah rumah dinas.
“Sudah beberapa tahun terakhir ini, POLRI memang tidak mendapatkan anggaran dari pemerintah untuk membangun perumahan dinas bagi anggota kepolisian. Di kepolisian, yang bernasib baik maka dia bisa mendapatkan jatah rumah dinas. Tetapi tidak semua bisa seberuntung itu karena rumah dinas di jajaran kepolisian sangat terbatas jumlahnya. Sehingga banyak anggota kepolisian yang terpaksa kos, mengontrak rumah atau menumpang di rumah temannya” kata Anton Bachrul Alam.
Menurut Anton, anggaran dari Pemerintah lebih difokuskan pada anggota operasional yang berguna dan dirasakan langsung untuk masyarakat.

Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan (JAMWAS) Marwan Effendy : "Banyak jaksa-jaksa yang terpaksa tinggal di rumah-rumah kos dekat kantor karena Kejaksaan tidak memiliki perumahan bagi para jaksa"
Nasib dari anggota kepolisian dalam sektor perumahan ini juga dialami oleh para JAKSA di Indonesia.
Dalam istilah anak gaul, BETI alias beda-beda tipis nasib dari anggota kepolisian yang tak tertampung dan tak mendapatkan fasilitas perumahan.
Dihubungi oleh KATAKAMI.COM, Kamis (13/1/2011), Marwan Effendy selaku Jaksa Agung Muda Bidang Pengawasan mengemukakan bahwa sangat besar jumlah jaksa-jaksa yang tidak mendapatkan fasilitas perumahan.
“Kejaksaan sebenarnya memiliki perumahan dinas tetapi hampir seluruhnya masih dihuni oleh penghuni-penghuni yang lama. Mereka tidak mau pindah. Dan kamipun tidak enak kalau harus mengusir mereka. Jadi untuk mengantisipasi itu, jaksa-jaksa yang tidak mendapatkan fasilitas perumahan terpaksa kos di rumah-rumah yang letaknya tidak jauh dari kantor-kantor Kejaksaan” kata Marwan Effendy.
Menurutnya, Kejaksaan Agung sebenarnya berkeinginan kuat untuk bisa menyediakan perumahan ini bagi para jaksa tetapi terkendala pada masalah anggaran.
“Kami sudah mengajukan permohonan sebenarnya untuk mengatasi masalah ini. Misalnya, rumah-rumah sitaan dijadikan perumahan untuk para jaksa. Tetapi belum bisa terelisasi. Kami tidak mendapatkan izin untuk melakukan itu. Salah satu penyebabnya karena rumah-rumah sitaan itu belum dilelang” lanjut Marwan Effendy.

Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono (duduk), Kapolri Jenderal Timur Pradopo (tengah) dan Jaksa Agung Basrief Arief sedang berbincang sebelum mengikuti rapat terbatas di Kantor Kepresidenan ( 20/12/2010)
Sekarang yang dimintai tanggung-jawabnya adalah Pemerintah Indonesia.
Sampai kapan Pemerintah mau “bersembunyi” di balik alasan-alasan klise bahwa kemampuan keuangan negara sangat terbatas sekali sehingga sampai detik ini tidak mampu memenuhi tingkat kesejahteraan abdi-abdi negaranya para institusi TNI, POLRI dan KEJAKSAAN.
Kasihan betul Indonesia ini, uang yang begitu banyak justru dinikmati oleh para koruptor dan jaringan-jaringan mafia yang bisa memperbudak aparat-aparat di berbagai instansi untuk melakukan apapun yang dikehendaki oleh para koruptor dan mafia-mafia tadi.
Sementara para abdi negara kita, hidup dalam kepahitan dan kegetiran yang berkepanjangan.
Mereka ( para abdi negara dari institusi TNI, POLRI dan KEJAKSAAN yang bergaji minim ), entah harus mengatakan apa kepada isteri dan anak-anak mereka tentang tidak sepadannya pengorbanan dan kerja keras sebagai abdi negara di tanah air tercinta ini.
Eh SBY, bukankah seharusnya anda malu sama Presiden Rusia yang terus konsisten memperhatikan kesejahteraan (terutama masalah perumahan) bagi prajurit militer mereka ?
Lakukan dong hal yang sama !
Tidak ada salahnya meniru sesuatu yang memang baik !
Perhatikanlah masalah perumahan bagi aparat TNI, POLRI dan KEJAKSAAN.
Dan kalau ada waktu luang dalam agenda harian Presiden SBY, coba diperiksa kembali bahwa bantuan pemerintah untuk masalah perumahan kepada TNI dan POLRI diberikan terakhir kali pada tahun 2002 oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.
Dan anda SBY, apa bantuan anda sebagai Kepala Negara untuk masalah perumahan ?
Anda punya anak, punya menantu dan punya cucu, tentu mereka semua ingin anda bahagiakan.
Begitu juga dengan prajurit-purajurit TNI dan anggota Kepolisian (termasuk pada jaksa) di Indonesia ini.
Jangan wajibkan mereka mengabdi kepada bangsa dan negara tetapi kepedulian negara sangat kecil pada masalah kesejahteraan mereka.
Tidak cukup hanya RENUMERASI.
Bantu mereka dalam masalah perumahan karena itu memang merupakan TANGGUNG-JAWAB penuh dari Pemerintah.
(MS)

Januari 07, 2011

Setara Kasus Mossad, Skandal Paspor Palsu Gayus Tambunan Menampar Muka Indonesia


Foto :SONY HARSONO" di paspor disejajarkan dengan foto GAYUS TAMBUNAN saat menonton pertandingan tennis di Bali (2010)
Jakarta 07/01/2011 (KATAKAMI) --- Ibarat meminjam bahasa anak gaul, figur Gayus Tambunan ini seakan "GAK ADA MATINYA". Ada saja pemberitaan miring seputar sepak terjang dari mantan pegawai Ditjen Pajak ini.


Setelah ketahuan menonton pertandingan tennis di Bali dengan menggunakan rambut palsu (wig) yang berbelah tengah, kali ini Gayus kembali menjadi NEWSMAKER.


Tak cuma ke Bali, ternyata Gayus juga pernah berpergian ke Macau (China), Kuala Lumpur (Malaysia) dan Singapura pada bulan September 2010.


Kalau tadi meminjam istilah anak gaul, lain lagi kalau memakai gaya bahasa ANAK MEDAN.


Komentar yang paling cocok untuk kiprah Gayus kali ini adalah, "KAU LAGI, KAU LAGI GAYUS, BOSAN AWAK MENDENGAR CINGKUNEK TENTANG KAU !".


Artinya, anda lagi, anda lagi Gayus, bosan saya mendengar "ocehan" tentang anda !

Foto : Terdakwa kasus mafia pajak, Gayus Halomoan Tambunan saat memotret menggunakan handphone-nya pertandingan tenis di Hotel Westin, Bali (November 2010)


Seperti yang diberitakan Metro TV dan Kantor Berita ANTARA (04/01/2011), Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Patrialis Akbar mengatakan, ada seseorang bernama Sony Laksono yang pergi ke Macau dan Kuala Lumpur pada September 2010. Pada paspor Sony ditemukan foto yang mirip Gayus. Di paspor itu ada foto orang pakai wig yang mirip dengan Gayus.


"Di paspor itu ada foto orang pakai wig yang mirip dengan Gayus," kata Patrialis kepada para wartawan di depan Istana Negara, Jakarta Pusat.


Menurut data imigrasi, Sony pergi ke Macau pada 24 September 2010 dengan menumpang Mandala Airlines. Sony kembali ke Indonesia pada 26 September dengan menumpang Garuda Indonesia.


"Pada tanggal 30 September 2010, Sony keluar lagi dengan paspor yang sama ke Kuala Lumpur, Malaysia. Namun, kembalinya sampai sekarang tidak terdeteksi. Ini memang luar biasa," lanjut Patrialis.
Patrialis pun sempat menjelaskan asal usul paspor tersebut.


Awalnya, paspor tersebut dibuat atas nama Margareta, seorang anak. "Ternyata paspor itu ditunda pembuatannya. Tapi nomor paspornya sudah ada. Tiba-tiba, paspor itu keluar atas nama Sony Laksono," katanya.


Paspor diketahui dibuat oleh Kantor Imigrasi Jakarta Timur. Sementara itu, asal-usul KTP atas nama Sony Laksono masih diselidiki. Patrialis menambahkan, pihaknya membentuk tim guna menelusuri kebenaran seseorang mirip Gayus yang pergi ke luar negeri.


Tim tersebut dipimpin oleh Kepala Inspektorat Jenderal Kemenhukham Sam Tobing, dan didukung oleh Plt Dirjen Imigrasi M Indra, serta beberapa staf Kantor Imigrasi Pusat, Kanwil Kemenhukham DKI Jakarta, dan Kantor Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta.


Selama menghuni Rumah Tahanan Mako Brimob Kelapa Dua Depok, Gayus diduga sering keluyuran.


Seseorang yang memakai wig dan mirip dengan Gayus keluyuran ke Bali. Ahad (2/1) lalu, seorang warga Depok, Devina, menulis surat pembaca di Kompas pernah pergi ke Singapura dalam satu pesawat dengan pria pemakai wig yang mirip Gayus.




Berikut isi surat pembaca yang dimuat Kompas hari Minggu (2/1/2011):


Pria Berkacamata Memakai Wig


Melihat foto Gayus dengan wig dan kacamata, yang belakangan ini beredar banyak di media massa, saya merasa yakin bahwa pernah melihat orang yang sama di Bandara Soekarno-Hatta, hari Kamis, 30 September 2010. Saat itu saya sedang menunggu penerbangan ke Singapura di ruang tunggu keberangkatan pesawat.


Ketika itu seorang pria memakai wig dan kacamata masuk ke ruangan tempat saya menunggu, lalu berada di penerbangan yang sama ke Singapura. Saya menatap beberapa kali, tetapi sayang saya tidak memiliki keberanian untuk mengambil foto dirinya karena jarak terlalu dekat. Saat itu, panggilan untuk masuk ke kabin pesawat sudah terdengar.


Setelah melihat foto tersebut belakangan ini banyak beredar di surat kabar dan berita di TV, saya semakin yakin bahwa orang yang berada satu penerbangan dengan saya ke Singapura tersebut memang Gayus. Mungkin ada pihak terkait yang merasa perlu untuk memeriksa hal tersebut. Berikut adalah penerbangan yang saya tumpangi saat itu AirAsia nomor penerbangan QZ 7780 waktu keberangkatan 11.20 WIB dari Jakarta menuju Singapura hari Kamis, 30 September 2010.









Yang ingin disorot dalam tulisan ini secara khusus adalah hal ihwal paspor palsu "Mister Gayus" yang berhasil menjebol 3 negara sahabat kita yaitu China, Malaysia dan Singapura.


Seperti yang dimuat oleh DETIK.COM (07/01/2011), salah seorang pengajar bidang kepolisian menilai masalah paspor palsu Mister Gayus ini adalah masalah “kecil”.


Persoalan utama mafia pajak yang menjerat pegawai Ditjen Pajak, Gayus Tambunan dikhawatirkan tidak akan bisa diselesaikan secara tuntas. Publik kini terlalu sibuk mengurusi masalah dugaan kaburnya Gayus ke luar negeri.


"Saya khawatir modus operandi mafia pajak justru tidak terbongkar karena tertutup kasus ini," ujar pengajar Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dan Universitas Paramadina, Rico Marbun, Jumat (7/1/2011).


Rico mengatakan, kasus dugaan ke Macau atau Malaysia adalah masalah kecil dari persoalan besar yang sudah dilakukan Gayus. Gayus pun kini sudah dipindahkan rutan Cipinang. Rico juga yakin, tidak mungkin ada lagi pihak yang berani meloloskan Gayus keluar penjara.


"Kepergian Gayus ini kan sudah terjadi, dan itu merupakan rangkaian dari puluhan kali yang dia pernah ngaku keluar penjara, nggak mungkin lagi bisa terulang. Kasus Gayus harus diusut tuntas, jangan hanya berhenti sampai di Gayus, sebab dia hanya pemain kecil," beber Rico.


Rico curiga, perkara kepergian Gayus ini digunakan sebagai pengalihan isu saja. Hanya sedikit saja, imbuh Rico, berbagai pihak yang konsisten menyuarakan pengusutan tuntas hasil 'nyanyian' Gayus soal mafia pajak.


"Saya khawatir ini pembelokan, jangan sampai hanya Gayus yang dikorbankan," pungkas Rico.


Demikian diberitakan DETIK.COM

Kepala Dinas Intelijen Mossad yang baru, TAMIR PARDO. (Foto : Uriel Sinai/Getty Images)


New Mossad chief to apologise for use of UK passports in Dubai killing


Pendapat yang mengatakan bahwa persoalan PASPOR PALSU yang dilakukan dan digunakan Gayus Tambunan berpergian ke 3 negara merupakan masalah kecil adalah pendapat yang sangat amat keliru.


Silahkan saja Pemerintah Indonesia mengusut masalah mafia pajak tetapi pembuatan dan penggunaan PASPOR PALSU adalah perbuatan melawan hukum yang sangat meresahkan keamanan dalam negeri Indonesia dan keamanan dalam negeri negara-negara lain yang dirugikan.


Kasus PASPOR PALSU Gayus Tambunan setara nilainya dengan kasus pembuatan dan penggunaan PASPOR PALSU yang dilakukan sejumlah agen Dinas Intelijen Israel dalam kasus pembunuhan Mahmoud al Mabhouh pada bulan Januari 2010 di Dubai.


Perbuatan Gayus Tambunan ini memang pantas untuk dibandingkan dengan kasus paspor palsu yang melibatkan dinas intelijen Mossad.


Secara substansi, tujuan penggunaan PASPOR PALSU itu memang tidak sama tetapi ada kemiripan dari kedua kasus ini yaitu sama-sama menggunakan PASPOR PALSU untuk memasuki NEGARA ORANG LAIN.


Tetapi Mossad sendiri telah secara resmi menyampaikan permohonan maafnya kepada Pemerintah Inggris.


Mengawali tugas barunya sebagai Kepala Dinas Intelijen Israel, dalam suasana Natal (Desember 2010) Tamir Pardo telah menyampaikan permohonan maaf kepada Inggris atas penggunaan paspor Inggris yang ASPAL alias asli tapi palsu.


Permohonan maaf ini sedikit agak mengejutkan sebab Pemerintah Israel sendiri ( baik itu Presiden Shimon Peres dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu ) tak pernah sekalipun menyinggung masalah ini ke hadapan publik internasional.


Boss Mossad yang sebelumya Meir Dagan ( yang digantikan posisinya oleh Tamir Pardo ), setali tiga uang tingkat "kegilaannya" dengan kedua Big Boss-nya yaitu Shimon Peres dan Benjamin Netanyahu.


Tidak membenarkan dan tidak menidakkan keterlibatan Israel dalam kasus pembunuhan itu dengan rekor penggunaan paspor palsu terbanyak atas nama Inggris yaitu menggunakan 12 paspor palsu INGGRIS.


Tetapi dengan adanya permohonan maaf dari Tamir Pardo yang sedikit agak mengejutkan ini, Mossad telah menyampaikan penyesalan bahwa perbuatan mereka memang melawan hukum.


Tamir Pardo juga menjanjikan bahwa agen rahasia Israel tidak akan pernah lagi diijinkan untuk menggunakan dokumen palsu jika mereka melakukan operasi intelijen di luar ngeri.


Belum diketahui apa reaksi resmi dari Pemerintah Inggris atas permohonan maaf Mossad ini karena sebelumnya Inggris memang menunjukkan reaksi kemarahan yang sangat serius.

Kepala Dinas Rahasia Inggris (Secret Intelligence Service / MI6) Sir John Sawers


Seperti yang diberitakan The Telegraph (25/12/2010), Tamir Pardo yang sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala Dinas Intelijen Mossad sesungguhnya dalam rapat internal Mossad menyatakan secara langsung bahwa dirinya tidak menyetujui penggunaan paspor palsu atas nama Inggris, Australia dan Irlandia untuk membunuh Mahmoud al Mabhouh.


Tetapi pendapat ini terabaikan karena posisinya yang bukan merupakan pengambil keputusan dalam dinas rahasia Mossad.


Permohonan maaf yang disampaikan Tamir Pardo kepada Pemerintah Inggris diduga kuat merupakan jembatan yang dapat melancarkan rencana kunjungannya ke Inggris di bulan Januari 2011 ini untuk bertemu dengan para pimpinan Dinas Intelijen Inggris yaitu Sir John Sawers (MI6) dan Jonathan Evans (MI5).


Hal yang patut dapat diduga merupakan sesuatu yang sangat tak lazim bagi Israel ( yaitu mengakui perbuatan melawan hukum kepada negara lain ) merupakan langkah maju dan harus sungguh-sungguh ditepati bahwa itu tak akan diulangi lagi di masa yang akan datang.


Di saat dua dinas intelijen kelas dunia hendak "bertemu" untuk membahas masalah hal ihwal kasus penggunaan kasus PASPOR PALSU, Indonesia malah seakan mencuat ke permukaan lewat figur Gayus Tambunan.

Gayus Tambunan
Pembuatan dan penggunaan PASPOR PALSU dalam kasus Gayus ini tergolong sangat serius sebenarnya.


Bayangkan, seorang Gayus bisa dengan mudahnya menembus ( atau lebih tepat digunakan kata MENJEBOL ) tingkat keamanan nasional di 3 negara.


Terdakwa kasus mafia pajak ini bisa dengan mudahnya keluar masuk di teritori negara China, Malaysia dan Singapura dengan menggunakan PASPOR PALSU.


Mari kita bayangkan bagaimana ketatnya proses pemeriksaan di Bandara Inernasional Soekarno Hatta yang ada di ibukota Jakarta.


Sangat jarang terjadi, kasus-kasus penggunaan PASPOR PALSU yang tertangkap.


Tetapi penangkapan para penumpang yang terseret dalam kasus-kasus narkoba misalnya, relatif sering dicegah oleh aparat keamanan ( terutama pihak Bea Cukai ) di areal Bandara Soekarno Hatta.


Bandingkan dengan Gayus Tambunan !


Gayus terlihat sangat menguasai setiap bentuk perjalanan yang dilakukannya di manca negara.


Contohnya, ia tahu bahwa untuk berpergian ke Macau ( China ), ada maskapai penerbangan Indonesia yang memiliki rute langsung ke sana yaitu MANDALA AIRLINES.


Untuk memesan tiket Mandala pada rute Macau, calon penumpang tak perlu repot-repot yaitu hanya tinggal mengakses SITUS RESMI MANDALA AIRLINES.


Jika kita ingin berpergian ke Macau misalnya ( bila keberadaan kita hanya kunjungan singkat ), kita tidak diwajibkan untuk meminta visa dari Kedutaan Besar China.


Sehingga, melancongnya Gayus ke Macau adalah sesuatu yang sangat mengasyikkan karena relatif mudah dan aman bagi dirinya. Apalagi, MANDALA AIRLINES hanya menetapkan 3 hari dalam seminggu untuk rute langsung ke Macau yaitu pada hari Minggu, Rabu dan Jumat.


Gayus Tambunan berangkat ke Macau menggunakan Mandala Airlines pada hari Jumat tgl 24 September 2010.


Dan kembali ke tanah air pada tanggal 26 September 2010 dengan menggunakan pesawat GARUDA INDONESIA.











Pembuatan dan penggunaan PASPOR PALSU yang dilakukan oleh Gayus Tambunan bukan sekedar masalah "kekhilafan yang disengaja" oleh para calo di lingkungan Kantor Imigrasi saja.


Ini sudah mempertaruhkan hubungan diplomatik Indonesia dengan sejumlah negara sahabat.


Artinya, sistem keamanan nasional di China, Malaysia dan Singapura bisa dijebol oleh manusia sekelas Gayus Tambunan yang begitu nyaman dan amannya keluar masuk ke negara-negara ini.


Hanya dengan satu PASPOR PALSU saja, Gayus bisa menjebol sistem keamanan nasional di 3 negara sekaligus.


Bagaimana kalau yang melakukan pembuatan dan penggunaan PASPOR PALSU itu adalah jaringan terorisme internasional untuk keluar masuk seenaknya di China, Malaysia dan Singapura ?


Apakah Pemerintah Indonesia tidak merasa malu karena sudah mencemari hubungan diplomatik dengan sejumlah negara sahabat semacam China, Malaysia dan Singapura.


Dan sebenarnya, kalau disebut PALSU, paspor itu besar kemungkinan bukan palsu dalam arti yang sebenarnya.


Sistem komputerisasi di Imigrasi, mewajibkan para pemohon pembuatan atau perpanjangan paspor untuk membubuhkan SIDIK JARI mereka.


Ini faktor utama yang bisa ditelusuri, sejauh mana tingkat keparahan skandal PASPOR PALSU Gayus Tambunan ini.


Kemudian yang harus ditelusuri adalah siapakah sebenarnya pihak tertentu yang menjadi BEKING Gayus Tambunan melakukan skandal skandal tingkat tinggi yang membutuhkan kemampuan IT sangat lihai dan mahir.


Tak cuma saat melakukan pembuatan PASPOR PALSU saja.


Tapi tak akan mungkin seorang Gayus bisa sangat percaya diri dan begitu berani berpergian ke 3 negara menggunakan PASPOR PALSU kalau ia belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang sistem keamanan di bandara-bandara internasional yang akan didatanginya di negara-negara tadi.


Semua negara pasti sudah menggunakan kecanggihan IT pada sistem komputerisasi bandara internasional di negara mereka.


Gayus yang cuma mantan pegawai kelas rendahan (secara pangkat dan jabatan di Ditjen Pajak ) tidak akan berani melancong ke tingkat dunia kalau cuma membawa modal nekat.


Patut dapat diduga Gayus pasti sudah mendapatkan pengetahuan yang cukup tentang situasi keamanan di negara-negara yang akan didatanginya tadi ( termasuk cara-cara menggunakan paspor palsu ini pada saat melewati pintu-pintu pemeriksaan ).

Istri Gayus-Tambunan, Milana Anggraeni
Pertanyaannya adalah siapakah yang patut dapat diduga oknum aparat yang menjadi BEKING UTAMA Gayus Tambunan melakukan skandal sangat memalukan seperti ini ?


Patut dapat diduga yang menjadi BEKING itu adalah pihak yang memahami intelijen dan sekaligus menguasai sekali penggunaan IT tingkatan yang sangat mahir.


Patut dapat diduga yang menjadi BEKING itu adalah pihak yang mengetahui situasi negara asing ( terutama yang dapat dipantaunya menggunakan sistem deteksi IT ).


Pegawai rendahan di Ditjen Pajak dapat menjebol sistem keamanan nasional di 3 negara asing dengan penggunaan PASPOR PALSU adalah sesuatu yang sangat serius.


Apalagi pegawai rendahan di bekas kedinasannya itu adalah seorang terdakwa dalam kasus MEGA MAFIA PAJAK di negaranya.


Skandal pembuatan dan penggunaan PASPOR PALSU ini adalah sebuah skandal yang menampar muka Indonesia di mata dunia internasional.


Bayangkan, tidak ada kasus "internasional" terkait urusan palsu-memalsu paspor yang bisa dijadikan bahan perbandingan untuk masalah Gayus Tambunan ini kecuali kasus penggunaan paspor palsu yang dilakukan Dinas Intelijen Israel yaitu Mossad pada tahun 2010 lalu.


Substansi dari kasus itu adalah sama yaitu secara sengaja telah menggunakan identitas palsu dan otoritas hukum negara dalam mengeluarkan dokumen penting semacam paspor.


Malahan kalau mau jujur, untuk urusan pembuatan dan penggunaan paspor palsu ini, Mossad kalah cerdik dari Gayus Tambunan sebab dinas intelijen Israel ini hanya masuk ke 1 negara.


Sementara Gayus bisa keluar masuk ke 3 negara sekaligus dengan paspor palsunya yaitu ke China, Malaysia dan Singapura.


Janganlah skandal ini terulang kembali di masa yang akan datang.


Ini bukan masalah kecil tetapi sangat amat serius.


Telusuri siapa BEKING atau pihak yang patut dapat diduga sengaja memainkan keberadaan dan peranan Gayus untuk kepentingan-kepentingan yang sangat amat dirahasiakan.


Kita bicara mengenai masalah keamanan nasional.


Baik itu keamanan nasional di dalam negeri Indonesia dan di negara-negara sahabat yang menjadi korban penggunaan paspor palsu GAYUS TAMBUNAN.


Cari BEKING yang ada di belakang Gayus Tambunan ini !


Bikin malu saja karena sok hebat membuat dan memalsukan PASPOR sehingga menampar serta mempermalukan Indonesia di mata dunia internasional.




(MS)