Desember 15, 2010

Ironi Wikileaks, Obama Pantas Dikecam Terkait Bom Kuningan 2009



FILE : President Barack Obama
Densus Bukan Likuidasi Tapi Ganti Nama, Akal-Akalan Merengek Ke Amerika?


Jurus Mubazir Polri Soal Terorisme Lewat 3 Elemen Anti Teror Yakni BNPT, Densus & CRT


Mengecam Penyerbuan Densus Ke Bandara Polonia & Balada Post Power Syndrome Gories Mere


Diduga Noordin M. Top Atau Gories Mere Yang Kebelet Ingin Ngetop ?

Jakarta, 15/12/ 2010 (KATAKAMI) --- Berdasarkan bocoran data dari Situs WIKILEAKS, 4 hari sebelum terjadinya aksi terorisme yang meledakkan 2 hotel bintang lima di Jakarta yaitu Hotel JW Mariott dan Hotel Ritz Carlton tahun 2009 lalu, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta (Indonesia) telah mengirimkan kawat diplomatik ke PEMERINTAH AMERIKA SERIKAT bahwa akan terjadi "SERANGAN TERORISME" pada tanggal 17 Juli 2009.

Wikileaks sendiri bukan membocorkan data-data fantasi tetapi MURNI membocorkan rahasia kawat-kawat diplomatik dari jaringan DEPARTEMEN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT.

Artinya, Kedutaan Besar Amerika Serikat telah melaporkan kepada Presiden Barack Obama tentang "akan terjadinya aksi terorisme di Indonesia" pada tanggal 13 Juli 2009.

Ledakan bom itu sendiri terjadi pada jam 07.47 WIB dan 07.57 WIB pada hari Jumat, 17 Juli 2009.



(YOUTUBE) --- Ledakan Bom di Ritz Carlton and Marriott Hotels in Mega Kuningan Jakarta (17 Juli 2009)


(YOUTUBE) The time of explosion ( Detik-detik waktu ledakan bom ) JW Marriott by.CCTV Eksklusif RCTI (17 Juli 2009)


Khusus di video ini yaitu sebelum penyiar RCTI berbicara, pada 3 detik pertama terdengar nama "PETRUS" disebut yaitu :  " .... pemilihan, Petrus ?"
Dijawab oleh lawan bicaranya : "Hmmmm"


(YOUTUBE) Terror Bom di JW marriott dan Ritz Carlton, Mega Kuningan Jakarta. Siaran dari SCTV (17 Juli 2009)


FILE : President Barack Obama



Kemudian Yang Mulia Presiden Barack Obama --- yang nota bene mewakili Pemerintah Amerika Serikat yang secara "teori" sudah lebih dulu mengetahui aksi terorisme itu 4 hari sebelumnya --- menelepon dengan sangat dramatis kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 18 Juli 2009.

Menurut pemberitaan DETIK.COM tertanggal 18 Juli 2009, Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama menelepon Presiden SBY. Obama membicarakan pengeboman di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton. Obama menyampaikan bela sungkawa sekaligus dukungannya bagi Indonesia dalam perang melawan terorisme.

"Presiden Obama berbicara dengan Presiden Indonesia Yudhoyono hari ini untuk memberi selamat atas keterpilihannya kembali sebagai presiden dan menyampaikan dukungan dan solidaritas AS kepada pemerintah dan rakyat Indonesia menyusul serangan teroris di Jakarta," demikian pernyataan Gedung Putih seperti dikutip dari AFP, Sabtu (18/7/2009).
Obama juga memuji Indonesia yang telah menggelar pemilu dengan sukses dan bisa menjadi teladan bagi negara-negara Islam. Ini membuktikan bahwa Islam, demokrasi, dan keragaman bisa hidup berdampingan dan tumbuh bersama.

"Presiden juga meneguhkan kembali kerja sama antara AS dengan Indonesia dalam melawan ekstremisme di Asia Tenggara dan seluruh dunia," lanjut pernyataan Gedung Putih. Demikian diberitakan DETIK.COM yang mengutip Kantor Berita AFP.


FOTO : Ponimin, Ponimin dikenal warga lereng Merapi sebagai orang pintar kedua setelah Mbah Maridjan. Dia biasa dimintai tolong warga untuk menentukan hari baik, mengusir setan, dan juga menjadi pawang hujan. Empat hari sebelum turunnya awan panas yang menewaskan Mbah Maridjan dan puluhan korban lainnya, Ponimin sudah mendapat "informasi".

Ilustrasi yang paling dicocok untuk digambarkan mengenai posisi Presiden Barack Obama yang sudah diberitahu 4 hari sebelum aksi peledakan bom itu adalah kejadian gaib yang terjadi seputar letusan Gunung Merapi pada bulan Oktober 2010 lalu.

Ini hanya sebatas ILUSTRASI tetapi pantas dikemukakan sebagai "gambaran" yang bertujuan untuk menyindir tentang "luasnya pengetahuan" Pemerintah Amerika Serikat mengenai urusan domestik negara lain, termasuk rencana aksi terorisme yang belum terjadi.

Empat hari sebelum turunnya WEDHUS GEMBEL atau awan panas yang menewaskan kuncen Gunung Merapi Mbah Maridjan dan puluhan korban lainnya, Ponimin sudah mendapatkan informasi informal mengenai BENCANA MEMATIKAN itu.

Seperti yang diberitakan DETIK.COM tanggal 29 Oktober 2010, Ponimin mengaku ditemui 'penguasa' Merapi atau makhluk gaib penunggu Merapi beberapa hari sebelum musibah awan panas terjadi. Sosok lelaki tua berbaju lurik dan berblangkon khas Jawa itu meminta Ponimin membuat bubur merah dan putih.

"Sabtu 23 Oktober pagi, saya didatangi si Mbah. Dia bilang mau menghancurkan lereng Merapi di empat penjuru, menggunakan kekuatan api, air, tanah, dan angin," cerita Ponimin saat ditemui wartawan di rumah dr Ana Ratih Wardani, di Kaliadem, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Jumat (29/10/2010).

Namun si Mbah berjanji tidak akan menghancurkan tanah di sekitar Merapi asalkan Ponimin maum membuat bubur merah dan putih. Namun bubur itu bukanlah bubur biasa. Air pembuat bubur harus diambil dari 7 mata air yang berbeda.

"Kata si Mbah kalau mau selamat mesti membuat sesajen bubur merah dan putih yang airnya harus dari 7 mata air. Kemudian bubur harus didoakan doa nurbuat dan selamat," kata pria 50 tahun ini.

Ponimin mengaku, ini bukan kali pertamanya si Mbah menemuinya. Sosok gaib itu sudah mulai 'dikenalnya' sejak 1994. Demikian diberitakan DETIK.COM.


FILE : Hotel Ritz Carlton yang ikut diledakkan oleh serangan aksi TERORISME pada tanggal 17 Juli 2009. Berdasarkan bocoran kawat diplomatik yang disebarkan WIKILEAKS, KEDUTAAN BESAR AMERIKA SERIKAT di INDONESIA sudah melaporkan tentangan rencana serangan aksi terorisme ini melalui kawat diplomatiknya 4 hari sebelum ledakan itu terjadi.


Mengapa judul tulisan ini memakai kata MENGECAM ?

Tentu saja harus dikecam.

Bayangkan, ada sebuah negara SUPER POWER yang sudah tahu tentang rencana aksi terorisme di Indonesia tetapi mendiamkan saja.

Bayangkan, ada dokumen rahasia tentang aksi serangan terorisme yang akan menghantam, mengguncang dan menghancurkan Indonesia dilaporkan oleh KEDUTAAN AMERIKA kepada Pemerintah AMERIKA SERIKAT ( cq Presiden Barack Obama dan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton) sebelum aksi itu terjadi ( dan hebatnya didiamkan saja oleh negara yang sudah mengetahui aksi serangan terorisme itu ).

Bayangkan, betapa hebatnya POLISI ( cq TIM ANTI TEROR INDONESIA ) yang patut dapat diduga sudah bisa mendapat rinciran serangan aksi terorisme terkait Bom Kuningan 2009.

Sebab pertanyaannya, darimana KEDUTAAN BESAR AMERIKA SERIKAT di Jakarta ini bisa mendapat dokumen dan informasi akurat tentangan serangan aksi terorisme itu secara detail ? Dari TIM ANTI TEROR POLRI-kah atau dari Jaringan Teroris itu senditi ?

Yang lebih pantas lagi dkutuk, setelah BOM meledak tanggal 17 Juli 2009 lalu, Barack Obama dengan “manisnya” bisa menelpon Presiden SBY untuk menyatakan belasungkawa.
Manisnya mulutmu dan kata-katamu, Obama.

Tidak malukah engkau hei Obama, kepada rakyat Indonesia, kepada Pemerintah Selandia Baru, Australia dan Belanda, yang warga negaranya ikut TEWAS dalam serangan aksi terorisme ini ?

Korban tewas dalam BOM KUNINGAN 2009 itu adalah :

INDONESIA 3 orang yaitu : Evert Mokodompis - Chef Banquet JW Marriot, plus 2 orang pelaku bom sendiri atas nama Dani Dwi Permana dan Nana Ikhwan Maulana.

SELANDIA BARU 1 orang atas nama Timothy MacKay selaku Presiden Direktur Holcim Indonesia.

AUSTRALIA 3 orang yaitu atas nama Nathan Verithy, Craig Sanger dan John Gear Rufer McEvoy.

BELANDA 2 orang yaitu atas nama EJC Keaning dan Pieter Burer.



FILE : President Barack Obama
Indonesia tidak membutuhkan “SENYUM MANIS” Barack Obama.

Indonesia membutuhkan Amerika sebagai mitra strategis yang konsisten membuktikan kata-katanya bahwa mereka siap menjalin dan membantu Indonesia dalam penanganan terorisme.

Berdasarkan pembocoran kawat diplomatik Kedutaan Amerika Serikat tentang BOM KUNINGAN 2009 yang dimuat oleh WIKILEAKS ini, Amerika sudah tahu 4 hari sebelum aksi serangan terorisme itu terjadi.

Mengapa didiamkan ?

Untuk apa Amerika membuang uang membentuk dan membidani lahirnya Detasemen Khusus 88 Anti Teror kalau dalam waktu 4 hari sebelum aksi serangan terorisme itu terjadi, Densus 88 tidak bisa mencegah dan mengagalkannya ?

Apakah Amerika mempunyai Undang Undang yang bisa menghukum para diplomat (bahkan presidennya) jika mereka membiarkan dan mendiamkan sebuah kejahatan terorisme terjadi ?

Ada unsur PEMBIARAN telah terjadi secara menyakitkan dalam kasus Bom Kuningan 2009 ini.

Ada unsur PEMBIARAN yang telah merenggut nyawa 9 0rang (ditambah 2 pelaku peledakan bom itu).

Satu nyawapun sangat berharga didalam kehidupan ini.

Hak hidup manusia seakan telah dirampas oleh arogansi kedigdayaan Amerika.

Untuk apa membocorkan sebuah serangan aksi terorisme yang akan terjadi di sebuah negara, kalau Amerika tidak berperan serta dalam mencegah dan menggagalkan aksi kemanusiaan itu ?

Untuk apa Presiden Barack Obama menelepon Presiden SBY beberapa jam setelah aksi peledakan bom itu terjadi guna menawarkan bantuan dan kerjasama dalam memerangi terorisme ?

Hei Barack Obama, jawab dulu pertanyaan ini ?


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggelar jumpa pers beberapa jam setelah terjadinya peledakan bom Kuningan 2009 didampingi Kepala Badan Intelijen Negara Sjamsir Siregar (paling kiri) dan Menkopolhukkam Widodo AS (berbusana batik) dan Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri ( tidak tampak di gambar). Dalam jumla pers ini, SBY menuding ada unsur politis di balik peledakan bom itu. Sementara berdasarkan kawat diplomatik Kedutaan Besar Amerika yang dibocorkan WIKILEAKS, Pemerintah Amerika sudah mengetahui aksi serangan terorisme itu 4 hari sebelum bom itu terjadi.

Sulit bagi siapapun menuding muka TIM ANTI TEROR INDONESIA sebagai dalang pembocoran dokumen dan informasi tentang rencana serangan teroris tanggal 17 Juli 2009 sehingga Kedutaan Besar Amerika di Jakarta bisa mengetahuinya 4 hari sebelumnya.

Sulit membuat asumsi atau analisa yang akurat karena segala sesuatu harus berdasarkan nalar, akal sehat dan informasi hitam diatas putih.

Tetapi betapa memalukannya diri kalian, hei DENSUS 88 ANTI TEROR, lagak kalian sangat memuakkan dan pantas dihujat oleh rakyat Indonesia.

Sebuah aksi serangan terorisme sudah bisa dilaporkan oleh Kedutaan Asing kepada Pemerintahnya dengan sangat akurat, tetapi malangnya TIM ANTI TEROR di Indonesia seakan “sedang tidur” sebelum serangan itu terjadi.

Setelah BOM MELEDAK, barulah kalian keluar kandang dengan garang dan sok gagah berani menggasak pihak-pihak yang kalian tuding sebagai TERORIS.
Dimana letak rasionalitas dari semua benang merah ini ?

Hei Bung, begitu banyak keluarga yang masih merasakan pedihnya kehilangan orang-orang yang mereka cintai yang tewas akibat kebiadaban aksi terorisme pada BOM KUNINGAN 2009 itu.

Yang pantas dipertanyakan, itu aksi terorisme atau aksi-aksian terorisme ?
Itu memang perbuatan teroris atau teroris-terorisan ?

Tidak letak kewibawaan Pemerintah Indonesia terkait bocornya kawat diplomatik Kedutaan Besar Amerika terkait BOM KUNINGAN ini ?
Anda, Presiden SBY, lebih hebring lagi.

Bisa-bisanya juga anda ngoceh beberapa jam setelah BOM KUNINGAN 2009 itu bahwa patut dapat diduga ada unsur politis dibalik BOM itu.

Aduh SBY, coba lihat video rekaman anda berpidato soal BOM KUNINGAN 2009 yang berisi tudingan anda kepada pihak tertentu di dalam negeri.

Anda tidak tahu malu menuding orang sembarangan.

Empat hari sebelum aksi peledakan bom itu terjadi, PRESIDEN NEGARA SUPER POWER di dunia ini sudah mendapatkan laporan lengkap tentang aksi serangan terorisme alias BOM KUNINGAN 2009 itu.

Jadi apa fungsi Presiden di negara ini kalau tidak bisa melindungi rakyatnya sendiri dan warga negara asing yang sedang berada di Indonesia ?


FILE : President Barack Obama
Sehingga yang perlu disampaikan disini adalah kesungguhan Pemerintah Amerika Serikat dalam menjalin hubungan kerjasama dengan negara lain dimanapun juga, termasuk Indonesia.

Terutama Presiden Barack Obama, janganlah memamerkan senyum manis dan kata-kata yang membuai tentang tawaran kerjasama dalam memerangi terorisme tetapi dalam kehidupan nyata, yang terjadi justru sebaliknya.

Informasi WIKILEAKS tentang Bom Kuningan ini sangat menyakitkan hati.

Terorisme seakan menjadi panggung sandiwara yang pantas untuk dibiarkan memberangus nyawa sebanyak-banyaknya.

Terorisme seakan menjadi drama kemanusiaan yang tidak perlu dicegah dan digagalkan demi AKSI HEROISME dari Tim Anti Teror Indonesia yang selama ini sangat suka jual omongan tentang keberhasilan memerangi terorisme.

Tutup mulut kalian, DENSUS !

Data WIKILEAKS itu sangat memalukan dan mujarab untuk menghancurkan kesombongan kalian yang selama ini tidak pernah mau bekerjasama dengan instansi lain dalam memerangi terorisme.

Kecil kemungkinan TNI akan mau melakukan PEMBIARAN jika mereka tahu bahwa empat hari kemudian akan ada sebuah aksi serangan terorisme di Indonesia.

Satu hal yang paling penting untuk digaris-bawahi mengenai KEAMANAN NASIONAL atau NATIONAL SECURITY bahwa dibutuhkan koordinasi yang sangat kuat antar aparat keamanan dalam memerangi terorisme.

Terorisme bukan komoditi dagang atau skenario indah yang bisa dilahap negara manapun untuk menyetir unsur-unsur keamanan di Indonesia.

Terorisme bukan "mainan" yang asyik dan sangat enak diutak-atik oleh negara manapun yang seakan bisa melakukan apa saja, termasuk menyaksikan kehancuran Indonesia yang sengaja dibiarkan digempur oleh kejahatan terorisme itu sendiri.

Siapa sebenarnya "THE REAL TERRORIST" yang menjadi biang kerok dari semua aksi terorisme di negara ini ?

Memalukan sekali, ada aksi terorisme yang sengaja dibiarkan dan tidak digagalkan oleh TIM ANTI TEROR INDONESIA.

Kalian ibarat duri yang menusuk sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Sedihnya hati rakyat Indonesia menyaksikan kejahatan kemanusiaan yang bernama terorisme itu.

Dan bocornya data serangan terorisme terkait BOM KUNINGAN 2009 ini 4 hari sebelumnya, mengingatkan kejadian yang "SERUPA TAPI TAK SAMA" pada aksi serangan terorisme di Hotel yang sama yaitu JW MARIOTT pada bulan Agustus 2003.

Sumber KATAKAMI.COM dari kalangan perwira tinggi Polri menceritakan bahwa Komisaris Jenderal Gories Mere sudah mengetahui rencana aksi serangan terorisme di  Hotel JW Mariott itu beberapa hari sebelumnya.

Rencana aksi itu dilaporkan kepada Kapolri Jenderal Dai Bachtiar tetapi Sang Kapolri tidak percaya.

Detik-detik menjelang bom itu meledak, Gories Mere dan seorang perwira  tinggi dari Tim Anti Teror Polri makan di sebuah Kafe untuk menantikan saat-saat peledakan bom itu terjadi.

Duarrrrrrrrr !

Saat bom itu meledak, Gories Mere sedang asyik menikmati menu makanan yang lezat di Kafe itu tanpa ekspresi.

Inilah gambaran manusia yang biadab dan tidak tahu malu.

Dia sudah tahu akan ada serangan aksi terorisme tetapi melakukam pembiaran ( dan malah sengaja mencari restoran yang nyaman untuk menikmati santapan lezat saat bom meledak ).

Penyanyi KAKA dari Grup Band SLANK mengekspresikan keprihatinannya atas terjadinya Bom Kuningan 2009 dengan menunjukkan celana yang dipakai bertuliskan : "BOMBERS KISS MY .... ASS !" yang berarti : Hei, Pelaku Bom, Cium Nih PANTAT Gue !
Wikileaks adalah sebuah ironi yang hadir di permukaan dunia ini untuk mengusik bahkan mencabik-cabik perasaan bagi negara atau pemimpin dunia mana saja yang tersenggol dalam kawat-kawat diplomatik jaringan Kedutaan Amerika di dunia.

Wikileaks adalah sebuah ironi yang menggambarkan betapa arogannya Amerika terhadap negara manapun didunia ini.

Siapa saja bisa diejek.

Siapa saja bisa dihina.

Siapa saja bisa dikatai.

Dan siapa saja bisa dibuai dengan kata-kata indah tentang kebaikan Amerika bekerjasama dalam memerangi aksi terorisme (terutama dalam masa pemerintahan Presiden Barack Obama).


Padahal faktanya : OMONG KOSONG LU, "BARRY" (OBAMA)  !


Anda tidak lebih istimewa dari omong kosong apapun juga didunia ini sebab melakukan pembiaran terhadap kejahatan kemanusiaan yang bernama TERORISME adalah wujud dari AROGANSI yang paling arogan.


Mengerti, Mr Arrogant ?


Payah Lu !


Jangan banyak obral senyum lagi kepada dunia internasional sebab hidup ini harus dihargai secara tulus, jujur dan penuh moralitas bagi setiap insannya yang taat beragama.


Darimana ceritanya anda hei AMERIKA, mau bekerjasama dengan dunia Islam (termasuk Indonesia) kalau kejahatan TERORISME saja kalian biarkan terjadi.


Aduh. Gila betul ....


(*)